Pada
suatu hari hiduplah seorang anak bernama lita.Ia seorang gadis yang sangat
cantik dengan berambut yang panjang dan hitam, memiliki mata yang sangat indah
serta berkulit putih. Ia memiliki kecenderungan suka bermain musik dan melihat
alam. Akan tetapi ada sesuatu yang ia sangat tidak mengerti, yaitu apa arti
hidup ini? Kata – kata tersebutlah yang selalu ia pikirkan. Tetapi dengan
berbagai pengalaman ia dapat menjalani kehidupannya dengan tenang sampai akhir
hayatnya. Dan semua itu dimulai dari pagi ini.
“Selamat
pagi dunia..selamat pagi burung – burung yang lucu, selamat pagi tanamanku yang
indah, selamat pagi awan dan selamat pagi semuanya” begitulah lita memulai
harinya dengan menyapa seluruh yang ada di dekatnya melalui candela rumahnya.
Setelah
lita sibuk menyapa seluruhnya, ia melakukan kegiatan seperti anak gadis lainnya
yaitu membersihkan tempat tidur dan membersihkan diri. Dengan cepat pun ia
kerjakan seluruh pekerjaannya. Dan ia mulai keluar dari kamarnya dengan penuh
senyuman.
“Selamat
pagi anakku sayang..” dengan senyuman yang masih hangat ibu lita menyambut
anaknya yang barusan keluar dari kamarnya.
“Selamat
pagi ibu..ayah kemana bu?”
“Tentu
saja ayahmu sudah berangkat tadi pagi ketika kamu masih tertidur nak. Ayo
sekarang kamu sarapan terlebih dahulu”
“Baiklah
ibu... ibu sudah sarapan?:”
“Iyaa
ibu nanti aja setelah kamu sarapan nak, udah habiskan dulu makananmu kemudian
kamu segera siap – siap berangkat ke sekolah”
“Iyaa ibu..lita mengerti” dengan penuh rasa senang, lita pun tidak ingin mengecewakan ibunya, sehingga ia menuruti nasehat ibunya.
Lita pun segera bersiap – siap berangkat ke sekolah.Ia
sangat pintar di sekolahnya, ia selalu menempati rangking pertama. Ia sangat
disenangi teman – temannya karena sifatnya yang baik dan ramah. Ia juga
mendapatkan berbagai prestasi yang membuat gurunya sangat bangga terhadapnya.
Hingga suatu hari ia sangat bosan untuk pergi ke sekolah
“Selamat pagi ibu” lita menyapa gurunya.
“Selamat pagi lita.Lita kelihatan mendung banget hari
ini, nggak sesuai cuacanya” sahut ibu guru.
“Ah ibu bisa aja, lita gakpapa kok.Cuman perasaan ibu aja
mungkin” dengan tersenyum lita menutupi wajah kebosanannya itu.
“Baiklah kalo gitu.Lita segera masuk kelas yaa.”
Setelah mencium tangan ibu guru tersebut, lita segera berlari
menuju kelasnya.Ia selalu duduk dengan sahabatnya yaitu rita, mereka selalu
bermain berdua entah ketika di kelas maupun waktu istirahat.
“Hai rita” sapa lita dengan sedikit berwajah cemberut.
“Halo lita, kenapa kamu? Ngapain wajahnya di jelek –
jelekin begitu? Senyum dong anak cantik” dengan sedikit bercanda rita menyambut
kedatangan lita.
“Ah kamu rit, udah tau aku lagi bosan gini masih aja di
ejek”
“Oalah anak mama ini lagi bosen tah..udah udah ngapain
sih bosen – bosen segala, hidup itu di buat senang kawan” kata rita dengan
sedikit menghibur.
“Dibuat senang gimana maksudmu rit?Aku nggak tau kenapa
hari ini aku jenuh banget” balas lita dengan mengeluh.
“Entahlah aku juga tidak tau maksud dari kata – kata itu
hahaha, aku hanya ikut trendnya anak – anak aja hahahahaha.” Dengan tertawapun
rita menjawab pertanyaan lita.
“Ah kamu selalu bikin tambah kesal aja” keluh lita.
Kemudian mereka kembali duduk berdua dan mengikuti pelajaran.Pikiran
lita pada saat itu tidak terfokus dalam pelajaran. Hanya kata – kata apa arti
hidup ini lah yang selalu ia pikirkan pada saat itu, hingga di tengah – tengah
pelajaran lita mencari kesempatan agar dapat berbicara dengan sahabatnya untuk mengisi
penasarannya tersebut.
“Hei rita” panggil lita.
“Ada apa sih lit? tumben banget kamu nggak konsen sama
pelajaran” sahut rita.
“Hehehe maaf. Aku ingin bertanya ni rit? Boleh nggak?”
“Mau bertanya apa anak pintar?”
“Kamu punya sesuatu yang berharga nggak?Jelasin dong apa
maksudnya berharga itu?”Tanya lita dengan penuh penasaran.
“Hmm tentu saja aku punya” dengan tersenyum rita menjawab
pertanyaan lita.
“Apa itu rit?” lita menyahutnya dengan penuh rasa
penasaran.
Disela
– sela mereka berbicara tiba – tiba pak guru memanggil nama mereka berdua dan
menyuruh mereka untuk diam. Lita sangat kecewa karena pertanyaannya belum
terjawab. Karena lita sangat penasaran, lita sangat tidak konsen dengan
pelajaran tadi, yang ia pikirkan hanyalah apa yang ia bicarakan dengan
sahabatnya sendiri tadi. Akhirnya pada saat bel istirahat mereka melanjutkan
percakapan itu.
“Hei
rit, apa yang berharga itu? Cepat jelaskan kepadaku” dengan penuh tidak
kesabaran lita bertanya kepada rita.
“Ya
ampun sabar dong lit, yaudah..sesuatu yang berharga bagiku adalah kamu” dengan
penuh senyuman rita menjawab pertanyaan yang diberikan lita.
“Ha?
Aku? Kenapa?” lita semakin bingung dan penasaran dengan apa yang diucapkan
sahabatnya sendiri.
“Iyaa
kamu lit, dan semua orang yang aku sayang adalah berharga bagiku. Dulu aku juga
sempat berfikir kalo barang yang paling mahal harganya adalah yang berharga
ataupun pemimpin kita. Tapi ternyata tidak, aku baru mengerti apa arti kata
berharga setelah aku kehilangan ayahku. Aku sangat merasa kehilangan sesuatu
dalam hidupku, dan aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang berharga lagi dari
hidupku, kawan. Hei lit,jangan sampai kamu kehilangan sesuatu yang berhaga
darimu. Jagalah baik – baik apa yang menurutmu berharga kawan, karena sesuatu
yang berharga itu adalah sesuatu yang sangat kamu sayangi dan kamu akan merasa
sangat kehilangan ketika ia hilang.” Dengan sedikit sedih rita menjawab semua
pertanyaan dari lita.
“Hai
kawan, aku sangat berterima kasih karena engkau memberitahukan aku apa
pelajaran tentang sesuatu yang berharga itu.Dan aku akan mengikuti nasehatmu
yaitu menjaga sesuatu yang berharga bagiku.” Dengan penuh senyuman lita
menyahut pekataan rita.
Setelah
lita mendengar jawaban dari sahabatnya ia merasa sedikit lega karena ia
mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Kemudian ia kembali melanjutkan
pelajaran di sekolah dengan penuh konsentrasi. Akan tetapi ketika ia mengikuti
pelajaran, ia mendapatkan sebuah informasi yang mungkin bagi seluruh pelajar
bahwa informasi itu sangat buruk atau menyeramkan yaitu akan ada ujian akhir
semester minggu depan. Semua murid pun pulang dengan wajah tidak gembira karena
mereka akan menghadapi ujian akhir pada minggu berikutnya, begitu juga dengan
lita.
“Assalamualaikum.”
Dengan wajah yang sangat capek lita mengetok pintu.
“waalaikumsalam.”
Ayah lita menjawab salam lita dan membuka pintu.
“Loh
ayah, kenapa ayah pulang cepat?” dengan kaget lita langsung memeluk ayahnya
karena senang bahwa ayahnya yang membukakan pintu.
“Iyaa
ayah sedang mendapatkan cuti satu bulan kedepan.Jadi ayah bisa menemani lita
terus di rumah” dengan penuh senyuman ayah lita menjawab pertanyaan dari
anaknya.
“Yaay
jadi ayah bisa nemenin lita kapan aja dong?” dengan penuh rasa senang lita
menyahut jawaban ayahnya.
“Iyaa
nak.Sudah kamu ganti baju dulu dan segera bantu ibu yaa?”
“Iyaa
ayah.”Dengan rasa penuh semangat lita segera ganti baju dan membantu pekerjaan
ibunya.
Waktu
terasa begitu cepat jika kita penuh rasa senang melakukan sesuatu kegiatan.
Hari demi hari lita telah lewati, sampai – sampai tak terasa bahwa besok ia
sudah melakukan ujian akhirnya. Lita sangat takut jika ia tidak naik kelas,
oleh karena itu ia selalu belajar tiap malam. Dengan penuh rasa iba ayah lita
melihat anaknya berusaha keras untuk menghadapi ujian tersebut, sehingga ayah
lita memutuskan untuk menemaninya malam ini.
“Hei
nak, bagaimana belajarnya hari ini?” ayah lita mencoba berbicara dengan
anaknya.
“Lita
bingung yah, apakah lita besok bisa menghadapi ujian itu?” dengan sedikit rasa
kecewa lita menjawab pertanyaan ayahnya.
“Sudahlah
yang penting kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, besok kamu hanya beserah
diri saja kepada Allah, oh yaa bagaimana kalo minggu ini kita jalan – jalan ke
suatu tempat?” dengan bermaksud menghibur ayah lita menjawab pertanyaan lita.
“Kemana
ayah?” lita menjawab dengan senang.
“Sudahlah
itu kamu pikirkan nanti saja, pasti kamu seneng kok dengan tempat itu” dengan
tersenyum ayah lita menjawab pertanyaan singkat dari anaknya.
“Baiklah
yah, lita ingin tidur dulu. Besok lita harus bangun pagi”
“Iyaa
nak, selamat malam, mimpi yang indah yaa.”Dengan memakaikan selimut ke anaknya
dan mencium kening, ayah lita mengucapkan selamat malam dengan penuh rasa
sayang.
Hari
yang menegangkan ternyata sudah tiba. Lita memulainya dengan menyapa seluruh yang
ada di sekelilingnya dan berdoa berharap nanti ia dapat mengerjakan soalnya
dengan lancar. Lita pun segera bersiap – siap menuju sekolahnya, karena ia
tidak ingin terlambat, ia melaksanakan tugasnya dengan lebih cepat dari hari –
hari biasanya. Setelah semua tugasnya beres, ia segera berpamitan kepada kedua
orangtuanya dan segera berangkat menuju sekolah. Akan tetapi mengapa perasaan
penasaran itu datang lagi pada saat waktu yang tidak tepat.Ia sulit
berkonsentrasi saat rasa penasaran tersebut menghantui dirinya. Tapi mau
bagaimana lagi, ia tidak bisa menghindarinya. Akhirnya lita tetap berusaha agar
bisa berkonsentrasi dengan apa yang ia hadapi.
Ketika
ujian, lita merasa kesal karena perasaan tersebut belum juga hilang.Ia juga
merasa kesal kenapa ia susah – susah berusaha sedangkan temannya bisa melihat
jawaban orang lain. Iamerasa hidup ini tak adil, karena orang lain dapat
mendapatkan apa yang ia mau dengan mudah sedangkan ia mendapatkannya dengan
cara yang sangat sulit. Hari demi hari ia menghadapi hal yang sama, ia selalu
melihat temannya mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara yang mudah
sedangkan ia harus berusaha terlebih dahulu. Ia merasa semakin kesal dengan
semua ini. Dan ia berharap bahwa besok minggu akan membawanya jauh merasa lebih
baik.
Ujian
telah lita lewati. Banyak hal yang tidak menyenangkan ia alami, dan ketika
minggu pagi lita bertanya kepada ayahnya.
“Ayah,
kenapa kemaren saat ujian teman lita hanya melihat jawaban lita dan mendapatkan
nilai yang bagus sedangkan lita harus belajar dulu sampai malam?” Lita mengeluh
kepada ayahnya
Akan
tetapi ayah lita hanya tersenyum kepada anak kesayangannya tersebut.
“Ayah
kenapa lita melihat kalo teman lita memiliki pembantu rumah tangga untuk
membereskan rumahnya sedangkan di sini lita dan ibu yang membereskan rumah”
lita mengluh kepada ayahnya lagi
Akan
tetapi lagi – lagi ayah lita hanya tersenyum kepada anaknya.
“Ayah
kenapa teman lita mendapatkan apa yang ia inginkan dengan mudah, sedangkan lita
harus bersusah payah terlebih dahulu.” Lita mengeluh sekali lagi terhadap
ayahnya.
Akan
tetapi ayah lita lagi – lagi hanya tersenyum kepada anaknya.
“Ayah
jawab pertanyaan lita!” dengan sedikit mengambek lita mengeluh kepada ayahnya
karena dari tadi ayahnya hanya tersenyum.
“Nak.Segera
ganti baju dan ikut ayah. Ayah sudah berjanji kan? Bahwa ayah akan mengajak
lita jalan – jalan bersama ibu.” Sahut sang ayah.
Dengan
cepat lita mengajak ibunya untuk segera bersiap – siap.Akan tetapi dengan penuh
perasaan kesal lita mengikuti ayahnya karena semua pertanyaan tadi masih belum
di jawab ditambah lagi dengan kata – kata yang selalu menghantui
pikirannya.Ketika mereka sudah bersiap – siap mereka segera berangkat ke tujuan
ayah mereka.Akan tetapi ketika sampai yang dilihat lita hanya tempat yang sangat
buruk dimana jalannya sangat becek, penuh tanaman berduri dan banyak kotoran
hewan.
“Ayah
tempat apa ini?” ibu lita bertanya kepada suaminya.
“Ini
tempat menuju sesuatu yang sangat indah bu” dengan penuh senyuman ayah lita
menjawab pertanyaan istrinya.
“Ayah,
lita tidak mau melewati jalan itu.Di situ jorok sekali, banyak kotoran hewan
dan jalannya juga becek.”Keluh lita dengan sangat kesal.
Akan
tetapi keluhan lita tidak mengubah pikiran ayahnya untuk menuju tempat yang
ayah lita inginkan.Dengan penuh semangat kemudian ayah lita menggendong anaknya
dan berangkat menuju tempat yang buruk itu. Mereka berjalan terus tanpa henti,
dan ketika di tengah perjalanan lita merasa kasian kepada ayahnya yang
menggendong ia terus. Dan akhirnya lita memutuskan untuk berjalan sendiri.Setelah
melakukan perjalanan cukup lama, mereka akhirnya tiba di tujuannya.
“Waaaaaaaah…
tempat apa ini yah? Indah sekali” dengan sangat terkejut lita melihat apa yang
ada di depannya.
Tentu
saja pasti lita terkejut, begitu juga dengan ibunya yang melihat apa yang di
depannya. Semua orang pasti juga akan senang jika melihat tempat ini. Tempat
yang sangat indah dengan terdapat danau yang luas di hiasi bunga – bunga yang
indah, dan terdapat pohon yang sangat besar dan rindang untuk tempat berteduh,
lantai yang hijau dengan penuh rerumputan yang sangat rapi, serta penduduk yang
sangat ramah kepada mereka. Penduduk di tempat itu bukanlah manusia seperti
lita, tetapi penduduk tersebut ialah hewan – hewan yang lucu seperti kelinci,
kupu – kupu, burung, capung, dll.
Tanpa
pikir panjang, lita langsung berlari menuju danau dan bermain – main dengan
penduduk tempat tersebut.
“Jangan
jauh – jauh nak jika bermain.” Teriak ibu lita.
“Baik
ibu.”Sahut lita dengan penuh rasa senang.
Setelah bermain cukup lama lita pun merasa lelah dan
memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang rindang itu.Ternyata di bawah
pohon tersebut merupakan tempat yang sangat nyaman yang pernah lita temui.Tentu
saja tempat tersebut sangat nyaman, di bawah pohon tersebut bertiupan angin
yang sangat sejuk serta di hiasi pemandangan yang sangat indah yang dapat
dilihat dari pohon tersebut.
“Hei nak, siapa namamu?” tiba tiba terdapat suara yang
menanyakan kepada lita.
“Siapa yang berbicara?” dengan rasa sangat takut lita
menjawab pertanyaan tadi.
“Tidak usah takut nak, aku adalah pohon yang sedang kau
nikmati ranting dan daunku untuk tempatmu berteduh.Siapa namamu nak?”
“Huaaaaaaa…….. apakah semua makhluk disini dapat
berbicara?” dengan kaget lita menjawab
“Tidak nak, hanya aku yang dapat berbicara dengan
bangsamu, karena aku yang menjaga tempat ini.”
“Babababaiikklaaahh…… nnaaaammaakuu llililittaaaa” lita
sangat ketakutan dengan hal yang ia hadapinya, karena seumur hidupnya ia tidak
pernah berbicara dengan pohon.
“Hahahaha….. sudahlah nak engkau tidak perlu takut
denganku, aku tidak akan berbuat jahat kepada orang yang polos seperti kamu.”
“Hmm okey, bolehkah aku berteduh lagi pohon?” dengan
penuh senyuman lita bertanya kepada pohon tersebut.
“Tentu saja nak, engkau boleh berteduh kapan saja dan
engkau boleh mengambil apa saja dalam diriku selama aku bisa memberikannya
kepadamu”
“Terima kasih banyak pohon, tetapi kenapa kamu tidak
berbuah? Aku sangat lapar sekali.” Dengan penuh rasa berharap lita bertanya
kepada pohon tersebut.
“Hahahaha… sebenarnya buah apa yang kau inginkan nak? Aku
dapat menciptakan seluruh buah di muka bumi ini”
“Benarkah? Aku ingin sebuah apel yang saaaaaangggaaattttt
lezat… hehe” lita menjawabnya dengan tersenyum
“Baiklah nak.”
Ternyata apa yang dikatakan pohon tersebut benar. Tiba –
tiba munculah buah apel di rantingnya dan jatuh di hadapan lita.Karena sangat
kelaparan, lita langsung memakannya dengan lahap.
“Kau terlihat sangat kelaparan nak, ini akan kuberikan
satu lagi untukmu”
“Terimakasih banyak pohon besar yang baik. Apel ini
sangat lezat.”Lita langsung memeluk pohon tersebut walaupun tangannya tidak
dapt menggapai penuh seluruh batang pohon tersebut.
Setelah lita memakan apel tersebut dan merasakan sedikit
kenyang. Lita ingat akan pertanyaan yang belum dijawab oleh ayahnya.
“Hei bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?.” Tiba –
tiba lita berbicara kepada pohon tersebut.
“Silahkan nak, engkau ingin bertanya apa?”
“Kenapa teman lita mendapatkan apa yang ia inginkan
dengan mudah, sedangkan lita harus bersusah payah terlebih dahulu.” Lita
mengajukan pertanyaan yang sama ketika ia bertanya kepada ayahnya.
“Bukankah seharusnya dengan semua kenikmatan yang engkau
rasakan ini, engkau mengetahui jawabannya nak?”
“Ha? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti dengan apa yang
kamu katakan.” Lita tampak bingung dengan kata – kata pohon tersebut.
“Apakah engkau melihat orang lain di sini selain kamu dan
orangtuamu nak?”
“Tidak” sahut lita.
“Tentu saja tidak nak, semua orang pasti akan enggan
untuk melewati jalan ke sini nak, sebagian orang pasti berfikiran bahwa jalan
tersebut tidak akan membawanya kemana – mana, yang ada akan malah ke tempat
yang penuh kotoran. Sebagian orang lagi akan berfikiran untuk apa aku bersusah
payah melewati jalan tersebut jika ada jalan yang enak dan pasti tempat
tujuannya. Semua itu sama dengan kehidupan aslimu nak, jika engkau berusaha
dengan maksimal dan berfikiran positif tentang apa yang akan engkau dapatkan di
depan, pasti engkau akan mendapatkan hal yang jauh lebih baik dengan orang –
orang yang tidak mau berusaha nak. Hidup itu adil nak, engaku akan mendapatkan
semua yang engkau inginkan bahkan lebih jika engkau berusaha dengan sungguh –
sungguh. Seperti halnya engkau melewati jalan yang buruk tadi dan tiba di sini
nak.”
Lita pun sejenak terdiam.
“Aku tahu sekarang, terimakasih pohon” dengan tersenyum
lita berterima kasih kepada pohon tersebut.
“Iyaa nak sama – sama. Ingatlah bahwa engkau harus
berfikiran positif dan pantang menyerah tentang apa yang engkau hadapi nak.”
“Baiklah.Aku ingin berpamitan dulu, karena hari sudah
sore aku harus segera pulang” lita tersenyum.
“Iyaa nak, jaga baik – baik dirimu dan jangan lupa
kembali kesini, aku akan berikan apapun yang engkau mau sesuai dengan
kemampuanku”
“Iyaa pasti aku akan kembali dengan cerita yang lain.
Selamat tinggal pohon.”Lita tersenyum kembali ke pohon tersebut dan memeluknya.
Lita segera berlari menuju kedua orang tuanya, dengan
rasa gembira bercampur sedih iatinggalkan tempat tersebut.
“Hei ayah, sekarang aku tahu dengan semua jawaban
tersebut.”Lita berkata kepada ayahnya.
“Baguslah nak jika engkau tahu dengan sendiri apa yang
engkau butuhkan” Dengan tersenyum ayah lita berkata kepada anaknya.
Mereka kembali pulang ke rumah dengan perasaan yang
senang.Dan lita sekarang merasa sangat lega karena semua pertanyaannya terjawab
dengan sendirinya. Dan ia juga merasa senang karena memiliki teman yang baru
yang sangat ramah kepadanya, serta ia menjadi lebih semangat untuk pergi ke
sekolah dan menjalani hidupnya. Setelah sampai di rumahnya ia segera
beristirahat untuk persiapan sekolah besok. Ia mendapatkan banyak pelajaran
pada hari ini, dan ia tidak akan pernah melupakan hari ini. Setelah ke esokan
harinya ia merasa lebih semangat menjalani hari – harinya. Ia bercerita kepada
sahabatnya rita tentang apa yang dia alami. Banyak perubahan yang terjadi
kepada lita setelah hari tersebut. Dan ia menjadi semakin lebih baik di setiap
harinya.
Ketika
malam ia selalu menulis hari – harinya di buku hariannya yang kecil tapi penuh
dengan pengalamannya. Akan tetapi ia mengalami masalah lagi pada kehidupannya. Hingga
pada suatu hari terdapat kata – kata di bagian terakhir di buku hariannya yang
bertuliskan.
“Hei pohon, aku ingin
kembali ke sana dan menanyakan sesuatu kepadamu”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar